Biogarafi Ratno Nuryadi - Penemu Mikroskop Nano Pertama di Indonesia

Ratno Nuryadi
Dr. Ratno Nuryadi, M. Eng.
Lahir: 17 Oktober 1973, Bangtul, Indonesia

Pendidikan: 2003, S3, Shizuoka University, Jepang (Bidang: Electronic Material Science) ; 2000, S2, Shizuoka University, Jepang (Bidang: Electrical and Electronic Engineering) ; 1998, S1, Shizuoka University, Jepang (Bidang: Fisika) ; 1994, Kursus Japanese Language School of the International Students Institute, Jepang
1992, SMA Negeri 8, Yogyakarta

Keanggotaan Organisasi Profesional: 2012-sekarang: Anggota IEEE (The Institute of Electrical and Electronics Engineers) ; 2010-sekarang: Wakil Ketua Indonesia Nano Soceity
2010-sekarang: Anggota Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia ; 2009-sekarang: Anggota IEE-J (The Indonesian Electronics Experts – Jakarta) ; 2006-2008: Ketua Institute for Science and Technology Studies (ISTECS) Chapter Jepang ; 2000-sekarang: Anggota Institute for Science and Technology Studies (ISTECS) ; 1999-2008: Anggota Japan Society of Applied Physics

Keluarga: Isteri: Ervin Hidayati Tholib ; Anak: Fatih Dzulfiqar

Dr. Ratno Nuryadi, M. Eng. Adalah Ilmuwan Indonesia yang berhasil menciptakan alat pengukur nano pertama di Indonesia berupa mikroskop nano. Alat yang ia beri nama Nanoscope ini berhasil mengantarnya mendapat penghargaan Achmad Bakrie untuk kategori Peneliti Muda di bawah 40 tahun.

Ratno Nuryadi lahir di Bantul pada 17 Oktober 1973. Ayahnya adalah seorang  guru SD. Setelah tamat SMA Negeri 8, Yogyakarta tahun 1992, dia mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan di luar negeri, yaitu di Jepang pada tahun 1993 hingga dapat menyelesaikan program doktor dengan predikat yang sangat memuaskan. Tahun 1994, ia mengikuti Kursus Japanese Language School of the International Students Institute, Jepang. Selanjutnya Gelar Sarjana sampai S3 ia peroleh di negara yang sama, berturut turut yakni: Tahun 1998, S1, Shizuoka University, Jepang (Bidang: Fisika) ; Tahun 2000, S2, Shizuoka University, Jepang (Bidang: Electrical and Electronic Engineering) ; dan tahun 2003, S3, Shizuoka University, Jepang (Bidang: Electronic Material Science).


Nanoteknologi

Nanoteknologi, merupakan teknologi yang sedang berkembang pesat di dunia karena materi yang disusun dengan teknologi nano akan memiliki karakter dan fungsi berbeda dengan materi yang tersusun tanpa teknologi nano.

Mikroskop nano bukanlah mikroskop biasa, karena menggunakan teknologi peraba materi seperti jarum yang akan menyusuri struktur materi dan kemudian menampilkan strukturnya di layar komputer dengan menggunakan software tertentu. Cara kerjanya mirip perlengkapan mikroskop nano yang ada di dunia.


Mikroskop nano pertama di Indonesia

Ide kreatif Ratno muncul ketika melihat keterbatasan alat riset di Indonesia, khususnya alat riset yang mendukung pengembangan bidang nanoteknologi, perekayasa bidang teknologi material BPPT.

Alat tersebut berguna untuk melihat struktur materi seukuran nano atau 10 pangkat minus sembilan meter. Dalam penggunannya, perlu perlengkapan khusus yang tak ada di Indonesia. Alat itu hanya bisa diimpor dengan harga satu unitnya mencapai sekitar Rp 2-3 miliar.

Berangkat dari keterbatasan itulah, Ratno Nuryadi, berhasil menciptakan mikroskop material renik yang disebut AFM (Atomic Force Microscope). Mikroskop nano pertama yang diciptakan di Indonesia ini, ia ciptakan dengan modal sekitar Rp 50 juta saja dan dibuat dengan bahan-bahan sederhana.

Mikroskopnya buatan Ratno prinsipnya sudah bekerja secara normal, namun secara teknis perlu dioptimalisasikan.

Biografi Ken Kawan Soetanto - Penemu Efek Soetanto

Ken Kawan Soetanto
Ken Kawan Soetanto

Prof. Dr. Ken Kawan Soetanto alias Chen Wen Quan (lahir di Surabaya tahun 1951) adalah seorang profesor di School of International Liberal Studies (SILS) dan mantan Dekan Urusan Internasional Divisi Waseda University, dimana ia juga Direktur Klinik Pendidikan dan Science Research Institute (CLEDSI). Sejak tahun 2005 ia juga menjadi profesor di Venice International University, Italia. Sebelumnya menjabat posisi fakultas di Amerika Serikat pada Universitas Drexel dan di Fakultas Kedokteran Universitas Thomas Jefferson.

Ia sudah mematenkan 31 penemuannya, 29 di Jepang, dua di AS, untuk bidang interdisipliner ilmu elektronika, kedokteran, dan farmasi.

Dr Soetanto adalah pakar yang memegang empat gelar doktor dalam disiplin ilmu yang terpisah (Rekayasa, Kedokteran, Farmasi Sains dan Pendidikan), dan penelitian pada latar belakang yaitu bidang interdisipliner dari bidang kempat ini. Ia telah mempublikasikan secara luas di beberapa bidang, terutama psikologi, pendidikan, pedagogi, mekanisme motivasi, obat-obatan, DDS, pengukuran dan peralatan, serta rekayasa biomedis.

Metode perkuliahannya unik dan sangat memotivasi, telah banyak didokumentasikan di Jepang dan lebih jauh sebagai 'Soetanto Metode' dan 'Soetanto Efek'.

Dia adalah anggota fellow dari Society Akustik of America, dan The American Institute of Ultrasound Kedokteran, serta anggota senior IEEE, dan telah menjabat sebagai penasihat pemerintah untuk Jepang Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri, dan sebagai anggota dari Visi Pemerintah Jepang inisiatif abad ke-21.


Pendidikan
  • SD Ta Chung, SD Shi Hwa, SD Ming Jiang di Surabaya
  • SMP Chung Chung di Surabaya
  • SMA Chung Chung di Surabaya
  • Sarjana Teknik dari Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo (Tokyo University of Agriculture and Technology), Jepang (1977)
  • Doktor Aplikasi Rekayasa Elektronika dari Tokyo Institute of Tecnology, Jepang (1985)
  • Doktor Ilmu Kedokteran dari University of Tohoku, Jepang (1988)
  • Doktor Ilmu Farmasi dari Science University of Tokyo, Jepang (2000)
  • Doktor Ilmu Pendidikan dari University of Waseda, Jepang (2003)

Karier
  • Associate Professor di Universitas Drexel, Philadelphia, AS (1988-1993)
  • Adjucnt Associate Professor di Universitas Thomas Jefferson, Philadelphia, AS (1989-1993)
  • Guru Besar di Toin University of Yokohama, Jepang (1993-2002)
  • Guru Besar di Universitas Waseda, Jepang (2003-sekarang)
  • Guru Besar di Universitas Internasional Venice, Italia (2005-sekarang)
  • Komite Evaluasi di Institut Teknologi Tokyo, Jepang (1997-1999)
  • Penghargaan[sunting | sunting sumber]
  • Outstanding Achievement Awards in Medicine and Academia dari Pan Asian Association of Greater Philadelphia, AS
  • Profesor Riset Terbaik dan Profesor Mengajar terbaik selama tujuh tahun berturut-turut (1994-2000) dari Toin University of Yokohama, Jepang
  • Pemegang rekor empat gelar doktor di Jepang; Eng.D. Med.D., Pharm.D., dan Ed.D. (sejak tahun 2003)


Biografi Soetjipto Soedjono - Penemu Pondasi Sarang Laba-Laba Tahan Gempa

Ir. H. Soetjipto Soedjono
Ir. H. Soetjipto Soedjono
Lahir: Trenggalek, 13 Agustus 1945

Wafat: Surabaya, 24 November 2011

Jabatan: Sekretaris Jenderal PDI-P, Wakil Ketua MPR-RI

Keahlian: Penemu Teknik Fondasi Sarang Laba-laba

Pendidikan: S1 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Ir. Soetjipto Soedjono (lahir di Trenggalek, 13 Agustus 1945 – meninggal di Surabaya, 24 November 2011 pada umur 66 tahun), merupakan tokoh teknik sipil dan politisi terkemuka di Indonesia. Sutjipto juga merupakan mantan calon Gubernur Jawa Timur dalam Pilkada Jatim 2008 yang diusung PDI Perjuangan yang berpasangan dengan Ridwan Hisjam. Bersama dengan Ir. Ryantori menemukan Pondasi Sarang Laba-Laba yang tahaan gempa.


Biografi

Soetjipto Soedjono lahir di Trenggalek, Jawa Timur pada 13 Agustus 1945. Gelar Sarjana Teknik Sipil diraih di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Ia Wafat di Surabaya pada 24 November 2011.


Pondasi Sarang Laba-Laba

Konstruksi Sarang Laba Laba (KSLL) ditemukan tahun 1976 oleh Ir. Ryantori dan Ir. Sutjipto. Keduanya alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS). KSLL buah dari hasil diskusi selama 8 tahun dibawah bimbingan mentor tunggal Prof. Dr. Ir. Rooseno.

Awalnya Ir. Ryantori dan Ir. Sutjipto berpendapat bahwa KSLL yang mereka temukan adalah konstruksi komposit antara plat beton yang diperkuat rib-rib beton dibawahnya dengan tanah / pasir yang dipadatkan dengan sempurna di antara rib-rib.

Tetapi setelah didiskusikan selama kurang lebih 8 tahun dibawah bimbingan mentor tunggal mereka Prof. Dr. Ir. Rooseno mereka bertiga akhirnya sepakat bahwa KSLL memiliki kemampuan jauh di atas konstruksi komposit seperti anggapan pertama mereka.
Denah konstruksi sarang laba-laba
Denah konstruksi sarang laba-laba (sumber: http://www.konstruksilabalaba.com/)
Pondasi sistem KSLL merupakan pondasi bawah konvensional hasil kombinasi antara sistem pondasi pelat beton pipih menerus dan sistem perbaikan tanah. Kombinasi tersebut menghasilkan kerja sama timbal balik yang saling menguntungkan sehingga membentuk sebuah pondasi yang memiliki kekuatan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sistem pondasi dangkal lainnya. Konstruksi tersebut dinamakan sarang laba-laba karena memang pembesian pelat pondasi di daerah kolom seperti jaring laba-laba dan di atas pondasi dipasang pelat yang siap dibangun.
Insinyur Soetjipto bersama Insinyur Ryantori menemukan teknik fondasi konstruksi sarang laba-laba dan sejak 2004 pemilik paten fondasi konstruksi sarang laba-laba adalah PT Katama Suryabumi, fondasi ini terbukti aman dari gempa dan telah terbukti pada gempa di NAD, Sumatera Barat, Bengkulu, Manokwari, dan daerah rawan gempa lainnya. Sehingga dalam jangka dua tahun (3 Desember 2007 hingga 1 Desember 2009) telah mendapat lima penghargaan salah satunya Penghargaan Upakarti dengan kategori Rintisan Teknologi sebagai Pondasi Ramah Gempa.

Pahun 2004, ketika gempa mengguncang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Gempa yang disertai gelombang tsunami telah meluluhlantakkan daerah di sekitar pantai provinsi tersebut serta memakan banyak korban serta menghancurkan infrastruktur dan permukiman warga. Peristiwa seperti ini akan selalu menjadi kekhawatiran, mengingat kondisi geografis negara kita yang berada pada jalur gempa. Namun, di antara bangunan yang hancur tersebut sebanyak 107 bangunan dengan fondasi Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL) tetap utuh, seperti Gedung Tera PLN Banda Aceh, SMK 3 Banda Aceh, dan Gedung Dinas Kesehatan di Pulau Simeuleu.

Insinyur Sutjipto lebih populer sebagai politisi ketimbang bidang konstruksi keahliannya. Soetjipto mencuat kepermukaan saat terjadinya konflik dalam tubuh PDI Jawa Timur. Soetjipto memilih mendukung DPP PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri. Pilihan ini mengantarkannya menjabat Sekjen PDI-P dan Wakil Ketua MPR.


Keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan fondasi KSLL
Untuk bangunan bertingkat tanggung (2-8 lantai):
  • Seluruh luasan tapak bangunan akan terangkai menjadi satu kesatuan konstruksi bangunan bawah yang kokoh.
  • KSLL menggantikan fungsi dari kurang lebih 15-20 jenis pekerjaan dari sub-structure / konstruksi bangunan bawah.

Rekor Dunia MURI
  1. Konstruksi Sarang Laba Laba adalah sistem fondasi pertama dan satu-satunya di dunia yang terbukti telah menyelamatkan bangunan-bangunan yang didukungnya pada gempa berkekuatan 9,1 SR dengan ratio keberhasilan 100 %.
  2. Pertama di dunia, Konstruksi Sarang Laba Laba adalah sistem konstruksi fondasi pertama di dunia yang mampu memaksa tanah untuk berfungsi struktur, tetapi massa tanahnya tidak menjadi beban dari struktur.

Paten

Terdaftar – 1979 : No. 7191 (Seri 1)
Paten – 2004 : No ID 0 018 808 (Seri 2)
Paten on progress – 2014 : No P00201403811 (Seri 3)


Karier

Ia memimpin kader dan simpatisian PDI di Jawa Timur melawan campur tangan pemerintah dalam tubuh PDI. Dia pun memindahkan markas PDI ke kantor CV. Bumi Raya, perusahaan jasa konstruksi miliknya. Sebab kantor lama masih dikuasai kubu Latief Pudjosakti. Sebuah bentuk perlawanan kepada pemerintah yang otoriter sekaligus sebagai wujud dukungan kepada kepemimpinan Megawati yang didukung oleh arus bawah.

Pilihannya membela dan menjunjung demokrasi itu, telah mengantarkan lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang kemudian menemukan teknik fondasi sarang laba-laba, ini menjadi seorang politisi kaliber nasional. Ahli konstruksi yang temuannya antara lain dipakai di Bandara Hang Nadim, Batam, ini akhir lebih mengalir bicara politik ketimbang bidang konstruksi yang juga digelutinya.

Memang, kehidupan politik (berorganisasi) bukan hal baru baginya. Sejak di SMA tahun 1964, ia sudah aktif di Gerakan Siswa Nasional Indonesia. Kemudian saat kuliah di ITS, ia aktif di Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, hingga menjabat menjabat wakil sekretariat GMNI Jawa Timur (1971). Pada tahun 1986, ia pun mulai aktif di PDI. Lalu, dua tahun kemudian terpilih sebagai bendahara PDI Jawa Timur.

Biografi Johny Setiawan - Penemu Planet Baru

Johny Setiawan

Johny Setiawan adalah astronom asal Indonesia yang bekerja sebagai peneliti di Departemen Pembentukan Bintang dan Planet, Max Planck Institute for Astronomy di Heidelberg, Jerman. Johny Setiawan dikenal sebagai penemu banyak planet ekstrasurya.

Pada Juni 2005, kelompok astronom Eropa dan Brasil di bawah pimpinannya berhasil menemukan sebuah planet luar surya yang diberi nama HD 11977 b.

Salah satu penemuan berikutnya adalah sebuah planet yang mengitari sebuah bintang yang sangat muda, bernama TW Hydrae . Penemuan ini dipublikasikan di Nature, vol. 451, 38 (2008). Planet tersebut masih dalam piringan cakram debu dan gas yang mengelilingi bintang induknya. Contoh penemuannya yang lain adalah HIP 13044 b, HD 47536 c, HD 110014 b, HD 110014 c, HD 11977 b, dan HD 70573 b.


Biografi

Johny Setiawan lahir pada 16 Agustus 1974. Ketertarikan Johny pada astronomi sudah dimulai sejak kecil ketika menonton film Star Trek. Ketertarikan mulai berkembang kala membaca buku Alam Semesta dan Cuaca. Johny kecil yang waktu itu dibesarkan di wilayah Johar Baru akhirnya mulai menggali lebih banyak tentang astronomi, termasuk di bangku sekolah.

Sekolah jenjang menengah dihabiskannya di Marsudirini, Matraman, Jakarta Timur. Mulai jenjang S-1 sampai meraih gelar doktor dihabiskannya di Jerman. Program doktor yang diraihnya dengan beasiswa dari European Southern Observatory di Keipenheuer Institute for Solar Physics Univseritas Freiburg mengantarkannya meraih predikat summa cum laude.

Sisi lain kehidupan Johny adalah hobinya memasak, fitness, dan melukis. Kemampuan memasak diasahnya ketika bekerja sambilan sebagai koki di Warsteiner Keller selama studi awal di Jerman. Hingga kini, beragam masakan, mulai nasi tumpeng hingga tahu berontak, bisa dibuatnya. Hingga sekarang, ia sering menerima pesanan makanan untuk acara kantor ataupun teman.

Untuk fitness, Johny melakukannya 2-3 kali seminggu. Tuntutan bekerja di dua tempat, Jerman dan Cile, dengan kondisi lingkungan yang jauh berbeda membuatnya harus menjaga stamina. Selain itu, ia juga memandang pentingnya ilmuwan menjadi fit dan tampil menarik agar bisa mendukung kariernya.


Penemuan

Selama tujuh tahun berkarya sebagai peneliti sejak tahun 2003, Johny telah menemukan 15 planet ekstrasurya alias planet-planet di luar tata surya kita.

Planet terakhir yang ditemukannya adalah HIP 13044b, sebuah planet yang mengorbit bintang lansia dan minim kandungan logam, HIP 13044. Penemuan ini mampu membuka cara pandang baru tentang proses pembentukan bintang sebab saat ini diyakini bahwa bintang tua dan minim kandungan logam tak mungkin memiliki planet.

Akhir tahun 2010, penemuan HIP 13044b dinobatkan sebagai 10 penemuan sains terbaik 2010 versi majalah Times. Temuan Johny Setiawan itu bisa disejajarkan dengan temuan Gliese 581g yang merupakan planet asing yang mirip Bumi dan temuan para fisikawan di European Organization for Nuclear Research (CERN).

Temuan besar Johny lainnya adalah planet TW Hydrae b. Penemuannya tergolong mencengangkan sebab di antara ratusan planet ekstrasurya, tak satu pun yang mengorbit pada bintang yang berusia muda. Diketahui, TW Hydrae b mengorbit bintang TW Hydrae, bintang yang baru berusia 8-10 juta tahun, 1/500 usia matahari saat ini.

Max Planck Institute for Astronomy mengakui penemuan TW Hydrae b sebagai salah satu penemuan  spektakuler. Untuk pertama kalinya, ilmuwan berhasil menemukan secara langsung bahwa planet terbentuk dalam lingkaran cakram yang berputar pendek setelah kelahiran bintang. Penemuan itu memungkinkan kajian baru dalam pembentukan bintang dan migrasi planet.

Selain dua planet tersebut, Johny juga menemukan planet-planet lain, di antaranya HD 47536b, HD 47536c, dan HD 11014b. Planet yang ditemukannya merupakan bagian dari proyek Search for Exoplanet with Radial-velocity at MPIA (SERAM).

Sumber:

Biografi I Made Budi - Penemu Formula Buah Merah

Buah Merah, kuansu (Pandanus conoideus)
Buah Merah, kuansu (Pandanus conoideus)
Drs. I Made Budi M.S adalah ahli gizi dan dosen Universitas Cendrawasih (UNCEN) di Jayapura. Ia merupakan orang yang pertamakali melakukan  penelitian tentang khasiat pengobatan Buah Merah. Dalam beberapa penelitian terbatas yang dilakukan I Made Budi dengan metode pengobatan langsung dengan Sari Buah Merah, peneliti mengungkapkan keberhasilan yang amat tinggi dalam upaya pengobatan yang dilaksanakan terhadap beberapa penyakit.


Penelitian

Drs. I Made Budi M.S. sempat mengamati secara seksama kebiasaan masyarakat tradisional di Wamena, Timika dan desa-desa kawasan pegunungan Jayawijaya yang mengonsumsi Buah Merah. Pengamatan atas masyarakat lokal berbadan lebih kekar dan berstamina tinggi, padahal hidup sehari-hari secara asli tradisional yang serba terbatas dan terbuka dalam berbusana dalam kondisi alam yang keras serta kadang-kadang bercuaca cukup dingin di ketinggian pegunungan. Keistimewaan fisik penduduk lain yakni jarang yang terkena penyakit degeneratif seperti: hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan kanker, dan lain-lain.

Dengan meneliti kandungan komposisi gizinya, ternyata dalam ujud sari Buah Merah itu banyak mengandung antioksidan (kandungan rata-rata):
  • Karoten (12.000 ppm)
  • Betakaroten (700 ppm)
  • Tokoferol (11.000 ppm)
Di samping beberapa zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh, antara lain: asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dekanoat, Omega 3 dan Omega 9 yang semuanya merupakan senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh.

Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri. Jadi aliran darah ke jantung dan otak berlangsung tanpa sumbatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Ini meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan memperbanyak aktivitas sel T Helpers dan limposit. Suatu kutipan studi membuktikan konsumsi betakaroten 30-60 mg/hari selama 2 bulan membuat tubuh dapat memperbanyak sel-sel alami pembasmi penyakit. Bertambahnya sel-sel alami itu menekan kehadiran sel-sel kanker karena ampuh menetralisasikan radikal bebas senyawa karsinogen penyebab kanker.

Dalam beberapa penelitian terbatas yang dilakukan I Made Budi dengan metode pengobatan langsung dengan Sari Buah Merah, peneliti mengungkapkan keberhasilan yang amat tinggi dalam upaya pengobatan yang dilaksanakan terhadap beberapa penyakit yaitu; tumor otak, tumor kandungan, tumor payudara, kanker hati, bahkan juga HIV/AIDS yg sebagian besar kasus penyembuhan terjadi atas pasien-pasien di Papua maupun penderita penyakit di p.Jawa. (sumber: Wikipedia

Biografi Eko Supriyanto - Pemilik 14 Paten Rekayasa Biomedis

Professor Dr.-Ing. Eko Supriyanto
Professor Dr.-Ing. Eko Supriyanto
Sumber gambar: UTM

Prof. Dr. Ing Eko Supriyanto adalah alumnus S1 Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung dan S3 Universitas Angkatan Bersenjata Jerman di Hamburg.  Ketertarikannya pada tubuh manusia dan pengetahuannya akan pengobatan membuatnya berhasrat menggabungkan bidang elektronika yang dipelajarinya dengan pengobatan.

Kiprahnya dalam bidang rekayasa biomedis di negeri jiran Malaysia telah membuatnya meraih 14 hak paten, terkait dengan produk rekayasa biomedis yang ditekuninya. Kini ia pun dipercaya duduk sebagai Ketua Jurusan Sains Klinikal Universitas Teknologi Malaysia.


Pendidikan dan Karir

Eko Supriyanto memperoleh gelar profesor dari Universitas Teknologi Malaysia (UTM) pada umur 33 tahun. Saat ini dia menjabat sebagai Direktur Pusat Penelitian Jantung Nasional dibawah kerjasama antara UTM dan Institut Jantung Negara Malaysia.

Sebelum ini dia adalah Ketua Jurusan Sains Klinikal UTM. Hingga akhir 2014 dia telah mempublikasikan lebih dari 150 makalah dalam jurnal internasional dibidang sains, teknologi dan kedokteran. Lebih dari 21 paten telah didaftarkan dia dari hasil-hasil penemuan dia selama di Malaysia. Diantaranya adalah Smart Doll, USG untuk bidan, Smart Mobile Telemedicine, Alzheimer Early Detector, dan Cervical Cancer Early Detector.

Karena pencapaian dia, hingga saat ini dia telah mendapatkan 35 penghargaan internasional diantaranya adalah Best of The Best Malaysia Innovator Award, The Most Creative Invention Award from Thailand, and Special Award from Korea.

Selain aktif dalam penelitian teknologi kedokteran, dia juga aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan professional. Saat ini dia menjabat sebagai Direktur Pusat Studi Pembangunan Nusantara. Dalam posisi ini dia aktif menjadi konsultan beberapa Kepala Daerah di Indonesia. Sejak tahun 2013 dia merupakan Professor Tamu di Fakultas Kedokteran UNPAD. Dia juga Professor tamu di Universitas Teknologi Ilmenau, Jerman. Selain sebagai guru besar dan konsultan, dia juga aktif menjadi direktur di beberapa perusahaan di Malaysia, Indonesia dan Jerman.


Penemuan

Smart Doll

Bidang rekayasa biomedis yang ditekuninya merupakan paduan elektronika dan kedokteran, berperan dalam menghasilkan alat-alat pembantu diagnosis. Salah satu produknya disebut Smart Doll. Sesuai namanya, alat tersebut adalah boneka pintar karena tidak hanya buat mainan.

Boneka yang bernama Elissa ini bisa menguji kemampuan anak-anak balita, terutama bisa berfungsi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Elissa bisa menguji kemampuan kognitif, psikomotorik, sosio emosional, bahasa dan wilayah lain yang menjadi standar dalam menganalisa perkembangan anak.

Dilengkapi dengan berbagai sensor, alat ini akan mendeteksi ketika anak mulai mendekati dan berbicara. Setelah mendeteksi, alat akan mengeluarkan hasil analisa dan program atau semacam kurikulum untuk memandu training anak tersebut selama seminggu ke depan. Semua bertujuan agar kehidupan anak lebih baik.

Alat ini juga bisa menyanyikan lagu yang disukai anak-anak dan mendongengkan sebuah cerita. Sistem di dalam boneka ini telah diprogram untuk menyimpan beberapa lagu dan dongeng populer. Alat yang ditujukan untuk membantu orangtua dan dokter mengenal anak ini dinamakan Eko berdasarkan nama putrinya sendiri.

Sekarang, alat telah dikembangkan dan dipakai oleh beberapa rumah sakit dan taman kanak kanak yang ada di Malaysia. Sebelumnya, boneka pintar ini tampil dalam rupa Teddy Bear, namun kini tengah dikembangkan bentuk lain sesuai dengan favorit anak-anak.


Telemedicine Smart Medical Wireless Interface

Selain boneka pintar, Eko juga mengembangkan Telemedicine Smart Medical Wireless Interface. Perangkat tersebut didesain untuk meminimalisasi biaya pengadaan alat dengan memungkinkan alat terkoneksi internet sehingga dokter bisa menganalisa dari jarak jauh.

Dalam merancang setiap peralatannnya, Eko selalu berpegang teguh pada tiga hal, lebih murah, lebih cepat, dan lebih aman. Hal itu dijadikan prinsip sebab menurutnya teknologi diagnosis yang berdasarkan rekayasa biomedis haruslah aman dan bisa dijangkau masyarakat luas.



Biografi Bambang Widiatmoko - Penemu Alat Pencacah Sinar Laser, Pendeteksi Tsunami & Pemilik 30 Paten

ilustrasi
Ilustrasi

Dr. Bambang Widiatmoko M.Eng adalah Penemu Optical Frequency Comb Generator (OFCG), yakni pembangkit sisiran frekuensi optik. Selain itu Ia merupakan peneliti kelahiran Boyolali tahun 1965 yang telah menghasilkan karya bermanfaat bagi masyarakat dan diakui dunia internasional. Bambang Widiatmoko 13 tahun belajar di Tokyo Institute of Technology, Jepang, untuk program S-2 hingga doktor itu mencatatkan 30 paten di Jepang. Kebanyakan berbasis laser. Karya terbesar Bambang adalah Optical Frequency Comb Generator (OFCG).


Penemuan OFCG

Sinar laser dapat dipecah menggunakan alat temuan Bambang. Temuan tersebut dinamakan Optical Frequency Comb Generator (OFCG), yakni pembangkit sisiran frekuensi optik. Ini alat pencacah sinar laser yang lazim digunakan di perusahaan berbasis fiber optik. Temuannya itu juga telah dipakai berbagai industri komunikasi di Jepang. Berkat temuannya tersebut Bambang diberi penghargaan berupa medali Anugerah Habibie dari The Habibie Center (THC), yayasan yang bergerak di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Bambang dinilai sangat berjasa sebagai peneliti teknologi, khususnya ilmu rekayasa. Dulu para peneliti sama sekali tak terpikir bagaimana mencacah sinar laser menjadi ribuan sinar baru. Sebab, memecah sinar adalah pekerjaan sulit. Bila satu sinar yang dipancarkan perlu satu transmitor, kalau memancarkan banyak sinar, tentu juga perlu banyak transmitor.

Bambang berhasil menciptakan alat pencacah sinar laser yang hanya sebesar jari kelingking sebagai produk dasar. Kemudian Bambang menyempurnakan temuannya agar bisa diproduksi secara masal. Ide Bambang membuat pemancar sinar tersebut disempurnakan dan ukurannya menjadi sebesar kotak P3K. Bambang Widiatmoko terinspirasi oleh tiga peraih Nobel Fisika tahun 2005. Mereka adalah Roy J. Glauber, peneliti Harvard University; John L. Hall, peneliti University of Colorado, dan Theodor W. Hansch, fisikawan Max Planck dari Institut fur Quantenoptik Garching, Jerman. Dua nama terakhir merupakan karib Bambang dalam melaksanakan riset-riset fisika. Ketika masih di Jepang, Bambang memproduksi masal alat ciptannya tersebut. Bahkan, dia juga mendirikan perusahaan ventura bernama Optocomb. Bambang menggandeng dua sahabatnya. Alat yang dipasarkan itu berseri BK625SM. BK merupakan gabungan inisial Bambang (B) dan Kourogi (K). Kourogi adalah karib Bambang di Jepang.


Alat pendeteksi Tsunami

Selain OFCG Bambang Widiatmoko pernah juga menghasilkan karya besar lain, yakni pendeteksi tsunami berbasis laser. Alat itu kini sudah dimanfaatkan di Jepang. Ditanam di dasar laut perairan Jepang. Prinsipnya, begitu tanda-tanda tsunami muncul, alat yang ditanam tadi akan mengirimkan informasi sinar laser ke stasiun di pinggir pantai. dengan Alat pendeteksi Tsunami ini, semua orang di daratan bisa mengantisipasinya.

Alat pendeteksi Tsunami temuan Bambang tak mudah hilang, seperti kasus alat pendeteksi tsunami di beberapa pantai di Indonesia. Kalau tak dihantam ombak, berita yang muncul dicuri nelayan yang usil.

Bentuk alat ini seperti tongkat yang ditanam di dasar laut. Berbeda dengan alat opendeteksi tsunami lain yang diapungkan dengan buoy. Apabila, buoy hilang dihantam ombak, lenyaplah alat tersebut.

Alat pendeteksi Tsunami ini pernah ditawarkan ke Bappenas pada tahun 2004, namun sebelum ada jawaban terjadilah tsunami di Aceh. Hingga kini, alat Bambang juga masih belum di pakai di Indonesia. Alat tersebut justru populer di Jepang.


Alat penghancur jarum suntik

Selain menemukan pendeteksi tsunami berbasis laser, Bambang telah menciptakan alat penghancur jarum suntik. Setelah menyuntik pasien, dokter tidak perlu membuang jarumnya ke tempat sampah. Cukup dimasukkan ke alat buatan Bambang, jarum akan melebur menjadi serbuk. Bakteri yang menghuni jarum tadi dipastikan mati. Di luar negeri banyak dibuat alat serupa, namun banyak suster ketakutan, sebab alat itu memancarkan api.


Sumber: